Imbal Hasil AS dan USD Penting Untuk Harga Emas Jelang CPI

Harga logam mulia telah berangsur turun, tekanan naik pada harga emas kini mulai labil setelah pada minggu lalu adanya rilis data pekerjaan AS yang mengejutkan, sehingga memicu repricing ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.

Minggu lalu, The Fed menyebutkan bahwa disinflasi terlihat sampai saat ini, akan tetapi suku bunga pun akan terus naik.

Pelaku pasar pun mempercayainya sebagai dovish dan membeli saham karena dollar melemah. Tak lama setelah itu, setelah adanya rilis dari pasar tenaga kerja dan sektor jasa membuat arah pergerakan emas dan dollar berbalik.

Harga emas pada awal tahun 2023 dibuka dengan impresif dan masih menguat meski adanya penurunan baru-baru ini. Saat suku bunga naik lebih lambat dan inflasi mulai mereda, imbal hasil rilis harus menurun, dan hal ini cenderung mendukung nilai emas.

Sementara itu, korelasi positif emas dengan inflasi lebih baik diamati dalam jangka panjang, korelasi antara keduanya buruk dalam jangka pendek hingga menengah.

Data inflasi bisa menjadi acuan dinamika dari hasil imbal hasil treasury yang juga memengaruhi nilai dolar AS. Imbal hasil dan USD lebih berpengaruh pada harga emas baru-baru ini daripada tingkat inflasi aktual.

Fokus utama sekarang adalah pada data inflasi AS yang akan dirilis hari Selasa. Harga konsumen bulanan AS dan CPI inti kemungkinan naik 0,4% pada bulan Januari.

CPI inti kemungkinan naik 5,5% dan inflasi utama naik 6,2%. Data yang lebih lembut dari perkiraan dapat menegaskan kembali pandangan bahwa inflasi AS sedang memuncak dan menenangkan kegelisahan investor.

Grafik XAUUSD Timeframe H1

Pergerakan harga emas pada hari Jumat (10/02/23) tidak bisa menembus level resistance di 1867.45.

RULES
1. lakukan entry sell atau sell limit di area resistance 1867.45 setelah adanya sinyal yang telah terkonfirmasi.